Sabtu, 01 Desember 2012

My Love Story Part 4



Kami keluar dari mobil dan aku langsung duduk di kursi yang ada diteras dibantu Mark. Kemudian Mark mengetuk pintu rumahku. Setelah beberapa kali di ketuk barulah kak Nico keluar.

"Permisi..,”sapa Mark kepada kak Nicky.
"Iya, ada apa??" katanya sambil melihat ke arah Mark.
"Kak Nico,.."panggilku.

Kak Nicky langsung melihat kearahku dan panik melihat keadaanku.
"Angie, apa yang terjadi denganmu??" katanya sambil mendekat kearahku.
"Aku tidak apa-apa kak. " jawabku
"Tidak, kamu bohong. Kamu terlihat pucat sekali.. Atau kamu?? "kata Nicky sambil duduk disampingku dan langsung melihat ke arah Mark dengan muka masam.
"kak, bukan Mark" kataku.
"dia diganggu oleh dua orang laki-laki tadi malam di Sligo, dia hampir dirampok dan pinggangnya tertusuk pisau yang dibawa penjahat itu. Aku hampir saja menabraknya ditengah jalan. Saat aku keluar dari mobil, kulihat tubuhnya sudah berdarah..”jelas Mark
"Benar apa yang dikatakannya??" tanya kak Nicky sambil menatap kearahku dan tangannya menyentuh pipiku.

Aku mengangguk pelan.
“Angie, coba saja kamu menghubungi kakak tadi malam? Pasti kakak jemput. Oh iya, Dimana Andy ??”tanya kak Nicky sambil melihat kesekeliling kami, sepertinya dia mencari-cari Andy.
“Dia tidak disini kak. Ceritanya panjang. Akan kuceritakan nanti. Oh iya ini Mark, dia yang menolongku tadi malam“ aku mengenalkan Mark pada kak Nicky.
“ohh, saya Nicky kakaknya Angie..” kak Nicky bersalaman dengan Mark.
“Mark Feehily..” kata Mark sambil tersenyum.
“Ya sudah, sebaiknya kalian masuk dulu. Ayo Mark, masuk dulu..” ajak Kak Nicky.
“Tidak usah kak. Terima kasih.” Kata Mark.
“ayolah Mark, masuk dulu...” ajak ku.

Akhirnya dia mengangguk setuju. Lalu Mark masuk dan duduk disofa diruang tamuku, begitupun aku langsung menyandarkan tubuhku disofa. Sedangkan kak Nicky mengambilkan kami minum didapur. Setelah menyuruh Mark minum, kak Nicky minta maaf kepadanya. Karena tadi sudah berprasangka buruk terhadap Mark. 

“Maafkan aku Mark. Tadi aku sudah berprasangka buruk padamu” katanya
“Tidak apa-apa kak. Cuma salah paham.” Jawab Mark
“Terima kasih juga yaa, kamu sudah membantu Angie. Tidak bisa dibayangkan kalau kau tidak menemukannya”kata Kak Nicky sambil mengacak – ngacak rambutku. Sedangkan aku cemberut sambil menoleh ke arah kak Nicky.
“iya kak, sama-sama. Tadi malam aku juga terkejut saat melihat Angie berdiri ditengah jalan.”
“kak, Mark juga yang mendonorkan darah untuk ku, tadi malam aku kekurangan darah” kataku memberitahu kak Nicky.
“aku sangat berterima kasih padamu, Mark. Kamu sangat membantu sekali. Maaf kalau Angie merepotkanmu.” kata kak Nicky smbil terseyum.
“Tidak kak, Angie tidak merepotkanku. Bukankah kita harus saling tolong satu sama lain??” jawab Mark
Kak Nicky mengangguk “iya kamu benar..”

Setelah itu kami ngobrol-ngobrol bersama, dan baru tahu kalau sebenarnya kami satu kampus. Tapi berbeda jurusan, Mark kuliah dijurusan Teknik Arsitektur, sedangkan aku jurusan Sastra bahasa. Tak lama dari ngobrol-ngobrol itu Mark berpamitan untuk pulang, tidak lupa dia mengingatkanku untuk berobat lagi kerumah sakit. Aku terseyum saat Mark mengingatkanku.Dia sungguh laki-laki yang baik ya Tuhan, gumanku dalam hati. Aku dan kak Nicky mengantarkannya sampai di teras rumahku. Dan masuk lagi kerumah saat mobil Mark menghilang dari depan rumahku.

Setelah Mark pulang aku langsung masuk kamar dibantu kak Nicky, aku membersihkan diri dan setelah selesai duduk sambil menyandarkan kepala di tempat tidurku. Aku sangat lega, akhirnya aku sampai juga dirumah.
Saat sedang bersantai ditempat tidur kak Nico datang kekamarku.
“Angie, boleh kakak masuk??” kak Nicky memanggilku dari luar kamar.
“iya kak, silakan..”jawabku
Lalu kak Nicky masuk, dia langsung duduk didekatku. Dia menanyakan dan melihat keadaanku. Dari ekspresinya kulihat sebenarnya kak Nicky sangat mengkhawatirkanku. Aku berusaha untuk meyakinkan kak Nicky kalau aku baik-baik saja.

Kemudian kak Nicky mulai menginterogasikan layaknya polisi, dia bertanya dari awal sampai akhir tentang kejadian tadi malam. Yaa, mau bagaimana lagi akhirnya ku ceritakan semua. Karena diantara aku dan kak Nicky memang tidak pernah ada rahasia. Maklumlah dia kakak ku satu-satunya dan sekarang aku tinggal bersamanya semenjak kedua orang tuaku bekerja di Australia. Mereka sudah beberapa tahun ini disana. 

Setelah ku ceritakan semuanya padanya, kak Nicky sangat kecewa dengan Andy. Sebenarnya dari dulu memang kak Nicky kurang menyukai Andy, karena banyak orang yang mengatakan kalau Andy adalah seorang playboy. Namun karena Andy adalah anak temannya papa, dan saat bersamaku dia juga selalu baik maka aku selalu berfikiran positif tentangnya. Kuyakinkan kak Nicky kalau Andy orang yang baik untukku.

Namun sekarang setelah kak Nicky sudah menyukai Andy dan menyetujui hubunganku dengannya, dia malah melakukan kesalahan yang menurutku takkan dimaafkan oleh kak Nicky. Kulihat raut marah dan kesal tergambar diwajah kak Nicky.

*********

Sejak kejadian itu, Andy beberapa kali menelponku untuk meminta maaf tapi aku tak pernah menghiraukannya. Karena Kak Nicky pernah bilang kalau dia hanya menelpon tidak usah dihiraukan karena hal itu sudah menunjukkan ketidakseriusannya untuk meminta maaf. Aku juga sudah sangat membencinya dan sudah tak ingin bertemu dengannya lagi.
Beberapa hari dari kejadian itu kedua orangtuaku menghubungi orang tua Andy, mama dan papaku membicarakan permasalahan ini kepada mereka. Awalnya mereka tidak mempercayai apa yang telah dikatakan oleh orangtuaku. Mereka bersikeras untuk tidak membatalkan pertunangan antara aku dan Andy. Namun berkat kekerasan hati keluargaku akhirnya mereka menyetujuinya. Lagipula saat dihubungi oleh keluarganya Andy sempat menghilang, tepatnya saat kedua orang tuaku membicarakan pembatalan pertunangan kami. Andy menghilang bagaikan ditelan bumi, dia yang biasanya selalu menelponku saat itu tak pernah lagi menghubungiku. Saat di datangi oleh orangtuanya ke Sligo ternyata dia sudah beberapa hari tidak masuk kuliah. Aku sudah tak memperdulikannya lagi, terserah apa yang akan terjadi pada Andy nantinya.

Disamping itu juga keadaanku mulai membaik, luka di pinggangku juga mulai sembuh. Aku sudah diperbolehkan kuliah setelah kemarin sempat libur selama hampir satu minggu.
Pagi itu seperti biasanya kak Nicky akan mengantarku pergi kekampus. Aku sudah siap diruang tamu, dan tak lama kemudian dia sudah keluar dari kamar, lengkap dengan pakaian kerjanya.
“siap?? Kita berangkat sekarang yaa??” ajak kak Nicky.

Akupun mengangguk dan berdiri berjalan keluar. Kak Nicky mengikutiku dari belakang. Kami langsung masuk kedalam mobil ferrari nya yang berwarna merah. Saat dimobil kak Nicky tak pernah lupa untuk menasehatiku agak aku tak lupa makan, dan sebagainya. Sebenarnya itu nasehat kak Nicky setiap pagi, bahkan aku sudah menghafal semua isinya. Hanya saja kali ini lebih ditekankannya.

“Angie, nanti kalau pulang telpon kakak ya? Akan kakak jemput nanti..” katanya
“kak, aku bisa pulang sendiri nanti biarkan aku naik taksi yaa. Lagipula aku tau kakak sangat sibuk kan??” jawabku.
“iya, tapi nanti kamu pulang dengan siapa Angie? Kamu masih sakit kan??” tanyanya.
“sampai kapan aku akan selalu dianggap anak kecil kak?? Aku sudah dewasa..” jawabku sambil cemberut.
“sampai ada orang yang bisa jaga kamu dengan baik. Kakak tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu lagi.” Katanya 

Aku menarik nafas, sambil mendesah, wajahku juga masih cemberut.
“Angie, kakak tau kalau kamu kesal. Tapi ingat sudah berapa celaka dan hampir meninggal. Kakak khawatir sayang.” Katanya sambil menatapku dan sebelah tangannya mengacak-acak rambutku.
“iya kak, aku mengerti. Maaf ya tadi aku kesal dengan sikap kakak yang seperti itu lagi..” jawabku.
“ baiklah kalau kau mengerti” jawabnya sambil tersenyum.

Aku pun membalas senyumannya. Begitulah kak Nicky yang selalu overprotektif kepadaku. Itu semata-mata dilakukannya karena kak Nicky memiliki trauma tersendiri. Trauma tentang kecelakaan ku dan dia saat kami masih kecil. Kecelakaan yang mengakibatkanku tak sadarkan diri selama seminggu. Saat itu kak Nicky lah yang melihat kejadiannya. Dia tahu persis bagaimana keadaanku yang hampir meninggal.

“Angie.. kamu sudah sampai..”kak Nicky membuyarkan lamunanku.
Aku langsung tersadar, sambil melihat keluar kaca, yaa ini kampusku. University of Dublin, kampus yang ternama di Irlandia.
“oh iya kak, terima kasih ya.. aku berangkat..” kataku sambil menyentuh tangannya. Sedangkan kak Nicky langsung mencium keningku sekilas.
“hati-hati ya. Telpon kakak, jika sudah selesai kuliah” katanya

Aku mengangguk sambil turun dari mobil. Dan kulihat kak Nicky langsung memutar mobilnya meninggalkan kampusku. Sedangkan aku langsung masuk kekelasku.

*******
Hari itu kami kuliah, sudah seminggu ini aku libur kuliah jadi banyak tugas yang belum kubuat. Akhirnya hari ini setelah selesai perkuliahan, ku putuskan untuk menyelesaikan tugas-tugasku di perpustakaan. Setidaknya aku sudah mendapatkan tiga tugas yang harus kuselesaikan untuk minggu ini. Lumayan banyak untuk waktu satu minggu, aku menghela nafas dalam-dalam sambil terus berjalan ke arah perpustakaan.

Saat itu aku membawa banyak sekali buku referensi dan catatan teman yang kupinjam dikelas tadi.sebenarnya kau cukup kerepotan dengan bawaan itu. Hingga karena terlalu repotnya aku membawa banyak buku-buku itu berjalan cepat pun aku tak bisa. 

Saat sedang berjalan, tiba-tiba seseorang menabrakku dari depan. Sontak saja semua buku-buku ku jatuh berantakan. Aku mendengus kesal sambil memunguti lagi buku-buku ku.
“Maaf yaa, maaf aku tidak sengaja..” orang itu ikut membantuku memberekan buku-bukuku.
“Lain kali aku harap kau bisa lebih berhati-hati lagi..” jawabku

Saat sedang membereskan bukuku yang jatuh, tanpa sengaja aku mengambil buku yang sama dengan penabrakku tadi. Aku languing mengangkat kepalaku menatap orang itu. kemudian betapa terkejutnya aku saat dia menoleh kearahku ternyata...
“Angie... “panggilnya
“Markk.” Aku menunjuk dia.

Senin, 26 November 2012

My Love Story Part 3



**********

Hari sudah beranjak siang saat Mark kembali kerumah sakit dan tak lama dari kedatangan Mark, dokter datang melepaskan semua peralatan kedokteran yang ada di tubuhku. Aku sudah diperbolehkan pulang, semua administrasi rumah sakit sudah selesai dan obatnya juga sudah diberikan kepada ku. Saat akan turun dari tempat tidur dan berjalan keluar dari rumah sakit, aku masih merasa pusing. Penglihatanku masih terasa berkunang-kunang. Namun aku berusaha untuk kuat, aku harus pulang. Mark yang dari tadi memperhatikanku langsung menolong, diambilkannya kursi roda agar aku tidak berjalan hingga ke parkiran. 

Saat keluar dari kamarku dia bertanya “kamu masih pusing, Ngie??”
“ehh, tidak. Aku baik-baik saja” jawabku, padahal rasanya kepalaku sedikit pusing.
“ooh..” jawabnya pendek.
Sesampainya diparkiran, aku langsung berusaha untuk berdiri saat Mark membuka pintu mobilnya.
“kamu bisa Ngie?? Aku bantu yaa..” katanya
“aku bisa..” jawabku.

Lalu aku berdiri pelan-pelan. Terasa nyeri dipinggangku saat berdiri. Aku sedikit meringis. Dan Mark langsung membantuku berdiri, dilingkarkan tangannya dibahuku sambil memegang lenganku. Pelan –pelannya aku berdiri, dan duduk dikursi depan mobilnya.
“makasih yaa..” katanya
Mark mengangguk dan langsung menutup pintu mobilnya. Setelah itu dia duduk disampingku. Dan mulai mengendarai mobilnya.
"Mark, antar aku kestasiun saja, biar nanti aku pulang sendiri.." kataku.
"kamu mau pulang ke Dublin kan??" tanyanya.
Aku mengangguk..
"aku juga pulang ke Dublin. Kita bisa pulang bersama. Lagi pula kamu kan masih sakit." Katanya.
" aku bisa sendiri kok.." kataku
"ayolah, Angie. Tidak salahkan kalau sekalian.." katanya sambil terus menyetir.
"tapii, aku bisa sendiri.." jawabku.
"aku sudah janji dengan dokter Alice kalau kamu akan baik-baik saja sampai di Dublin.."katanya.

Aku menghela nafas panjang. Lama-lama aku mulai kesal dengan sikap Mark yang mulai mengaturku.
"aku butuh sendiri Mark..”jawabku.
“tapi kesehatan kamu juga penting Angie..” katanya.
“kamu siapa?? mengapa mengaturku?? " bentakku.
Seketika Mark melihat ke arahku, menatapku dan tak lama kemudian kembali fokus menyetir.
"baiklah kalau itu yang kamu mau.." katanya pelan.

Mark mempercepat laju kendaraan. Kami saling diam satu sama lain. Ku lihat dari ujung mataku Mark terlihat kesal. Aku jadi merasa bersalah karena tadi membentakknya. Tapi saat ini aku benar-benar butuh sendiri. Aku ingin menenangkan diri dan hatiku.
Tak lama kemudian, kami sudah sampai di halaman parkir stasiun.
"sudah sampai..” katanya.
"Makasihh.." kataku sambil membuka pintu mobilnya.
Dan dengan buru-buru dia keluar dari mobil. Dia langsung membukakan pintu mobilnya untukku.
"sini aku bantu.." katanya sambil menjulurkan tangannya.
" aku bisa sendiri.." jawabku.

Lalu aku berdiri untuk keluar mobil. Mark langsung menarik tangannya dan segera menyingkir dari depanku. Dia hanya diam memperhatikanku.
Aku bisa berdiri, namun setelah berdiri masih saja penglihatanku berkunang-kunang, kepalaku juga sedikit pusing. Hampir saja aku terjatuh, untung Mark yang berdiri disampingku langsung menangkap tubuhku. Tangan kanannya langsung memeluk tubuhku dan tangan kirinya memegang tanganku. Wajah kami berdekatan, hanya berjarak beberapa centimeter. Tak sengaja kami saling menatap, lama tak berpaling. Tiba-tiba jantungku berdetak lebih kencang, rasa dingin langsung memburu ketubuhku sampai keujung kaki.

Suara deruman mobil yang datang, membuat kami tersadar. Aku langsung memalingkan wajahku, aku tau wajahku pasti sudah memerah karena malu. Begitupun Mark, dia seperti salah tingkah..
"sorry.." katanya.
"sorry juga,.." kataku sambil berusaha segera berdiri. Dan mark memegangi bahuku. Memastikan kalau aku benar-benar berdiri seimbang.

*********

Lalu aku berjalan memasuk kedalam stasiun itu dengan dibantu Mark. Tangannya masih melingkar dibahuku.
" aku antar sampai ke dalam yaa. Aku takut kamu jatuh lagi" katanya.
Aku mengangguk. Dan saat kami sedang berjalan, dari arah berlawanan datang seseorang yang sepertinya kukenali. Semakin mendekat, dan ternyata itu Andy.
"Angie..." panggilnya kaget dan langsung melihat ke arah Mark yang merangkulku.

Tak ku hiraukan dia, aku terus berjalan. Kulirik Mark, dia terlihat agak bingung.
"Angie, aku fikir kamu sudah pulang tapi ternyata kamu masih disini. Semalam aku mencarimu, aku telpon kak Nicky  tapi nomornya tidak aktif. Aku khawatir denganmu.." katanya.
"sejak kapan kamu peduli denganku???" tanyaku kesal.
"aku bisa jelaskan semuanya sayang. Beri aku waktu, aku akan menjelaskan semuanya." katanya lagi
"tidak usah, aku tidak punya waktu.." kataku.
"Angie, beri aku satu kesempatan lagi. Pleasee.." katanya memohon.
"tidak..." bentakku sambil menggeleng.
“Angie.. pleasee..”dia memohon lagi.
“sudah jelas semuanya,. Cukup jelas..” bentakku lagi.
"ohh aku tau, kamu juga selingkuhkan??.." katanya dengan suara keras. Membuat langkahku terhenti.
"kamu siapa aku?? Kita sudah putus. Dan jangan pernah sembarangan bicara.." kataku
"itu buktinya.." katanya dia menunjuk Mark yang ada disebelahku.

Mark mengerutkan dahinya. Aku yakin dia pasti bingung.
"aku tidak selingkuh, kamu yang selingkuh. Wanita itu... “ jawabku lebih keras dari suaranya.
“iya, memang dia pacarku. Itu kulakukan karena aku bosan denganmu..” katanya
Sangat sakit kudengar kata-kata itu.
“kenapa tidak kau putuskan saja aku dari dulu?? “ tanyaku

Dia terdiam mendengar ucapanku.
“aku menyesal telah mengenalmu. Aku sangat membencimu. Susah payah aku kesini, tapi apa??. Kamu buat aku kecewa,.” Mataku langsung memanas dan tak kusadari air mataku langsung meleleh membasahi pipiku.
“kamu juga tidak tau kan apa yang sudah terjadi denganku tadi malam??  Aku kesini untuk kamu,tapi kamu buat aku kecewa. Kalau kamu sudah bosan denganku, putuskan aku. Batalkan pertunangan kita. Jangan kau buat aku seperti ini..." kataku sambil berjalan meninggalkan dia. Mark masih membantuku.
"kamu kenapa??" kata Andy sambil menarik tangan kiriku. Spontan aku menjerit..
"aduhh, "aku mengeluh.

Mark tiba - tiba menahan tangan Andy untuk tidak menarik tanganku.
"tolong, hati - hati,..” belum selesai Mark berbicara, dilepaskannya tangannya yang menarikku tadi. Lalu kerah jaket Mark langsung ditarik Andy. Sedang kan aku meringis kesakitan.
"kamu tidak usah ikut campur. Kalau kamu bukan siapa-siapa Angie. Atau kamu siapa??" bentaknya sambil melepaskannya.
"aku memang bukan siapa-siapanya Angie tapi kamu tidak seharusnya seperti itu. Kamu tidak tau kan, apa yg terjadi semalam.." jawab Mark
"apa ?? Kamu lama-lama sok tau yaa.." katanya lalu memukul wajah Mark. Pukulan Andy tepat mengenai sudut bibir Mark.
Mark sudah siap membalas pukulan Andy, tapi aku langsung berteriak.
"stop.. Stopp..." Mark tidak jadi memukul Andy dan melepaskan pegangannya.
"Andy, aku hampir mati semalam." kataku sambil menangis.
"aku tidak tau sayang.." katanya sambil mendekat kearahku dan mencoba membelai rambutku.
"jangan panggil aku sayang, kita sudah putus dari semalam. Dan jangan sentuh aku..” jawabku.
“Aku akan batalkan pertunangan kita secepatnya. Sekarang kamu pergi, atau aku panggil satpam disini." bentakku sambil menangis.
"Angie.. Please.."katanya masih memohon lagi.
"pergi kamu!!!." Teriakku lagi.

Lalu aku menarik tangan Mark untuk pergi dari sana. Kulihat Andy langsung pergi naik motornyaa dengan ngebut.
"Mark, maafkan aku. Kamu dipukul Andy tadi.." kataku sambil nangis.
"sudah, aku tidak apa-apa” sambil memegang bibirnya yang tadi dipukul Andy.
 “Ngie, kamu pucat. Kita cari minum yaa." Katanya lagi.
Aku mengangguk, tiba-tiba terasa nyeri dipinggangku. Tanpa sadar aku mengaduh “aduhh” sambil memegangi pinggangku.
“kamu kenapa?? Luka dipinggang kamu sakit??” tanyanya.
Aku mengangguk.
“kita kedalam dulu yaa, disini ada poliklinik. Kita istirahat dan obati kamu dulu..” katanya

Karena rasanya semakin sakit. Akupun menuruti permintaan Mark. Lalu kami berjalan kearah poliklinik stasiun. Saat akan ke poliklinik stasiun Mark bicara padaku.
"sebaiknya kita pulang naik mobil saja yaa?? " ajaknya.
“tidak Mark. setelah dari klinik, aku akan menunggu kereta yang akan berangkat ke Dublin “ Jawabku
"ayolah Angie,lagi pula  wajahmu pucat begitu.." katanya lagi
Aku masih terdiam.
“Ngiee...” panggilnya lagi.
Aku berfikir sejenak, dan akhirnya ku turuti dia.
"baiklah,.." kataku.

*******

Kami sudah sampai di poliklinik yang ada distasiun itu.Disana ada seorang seorang suster yang sedang bertugas. Saat itu Mark langsung menjelaskan keadaanku pada suster itu, dan dia pun langsung mengobati lukaku. Sedangkan Mark pamit keluar.
Aku terbaring ditempat tidur poliklinik itu.
"tunggu disini sebentar ya, akan ku ambilkan perban untuk mu didalam. " kata suster itu.
“iya suster..’ jawabku

Saat aku sedang menunggu suster itu Mark kembali lagi dengan membawakanku air minum.
“ ini untukmu, minumlah, supaya sedikit tenang..” katanya sambil memberi ku air minum.
Perlahan aku duduk dan meminumnya.
“makasih yaa..” kataku.
Saat sedang minum kuperhatikan ujung bibir Mark yang sedikit memar, itu akibat dipukul Andy tadi.
“Mark, bibir kamu berdarah.” Kataku sambil menyentuh wajahnya.
Saat kusentuh, sepertinya dia meringis menahan sakit.
“tidak apa-apa, luka sedikit..” jawabnya.

            Saat itu, suster yang tadi mengambilkan perban untukku sudah kembali, aku langsung berbaring lagi. Di gantinya perban yang ada dilukaku. Dan tak lama kemudian selesai.
“suster, boleh aku minta air dingin?? “ tanyaku.
“iya boleh, untuk apa??” tanyanya
Aku menunjuk ke arah Mark.
“wajahnya memar, aku takut nanti membengkak..” jawabku

Lalu suster itu mengambilkan air dingin untuk Mark, dan tak lama kemudian kembali sambil membawakan semangkuk air dingin.
“akan kuambilkan obat untuknya..” kata suster itu sambil membuka tempat obat yang ada dilemari disudut ruangan. Sedangkan aku duduk kembali, Mark duduk disampingku.
“aku kompres yaa lukanya, supaya cepat sembuh  ”kataku
“tidak usah, ini akan sembuh nanti.” katanya.
“Mark...” panggilku sambil menatapnya. 

Mark langsung mendekat dan ku ambil mangkuk air yang berisi air dingin didekatku dan langsung mengompres lukanya.
Saat sedang ku kompres, wajah Mark seperti meringis kesakitan.
"sakit yaa?? “ tanyaku.
"sedikitt.." katanya sambil senyum.
Lalu suster tadi datang membawakan obat untuk Mark, dan langsung memberikannya pada Mark.  Setelah selesai kami keluar dari poliklinik itu, dan langsung pulang.

*******

Di mobil Mark menyetir mobilnya dengan santai. Saat itu aku langsung terfikir untuk meminta maaf padanya karena aku tadi sudah membentaknya dan dia juga sudah dipukul oleh Andy. Aku merasa sangat bersalah padanya.

"Mark, maafkan yaa..." kataku pelan.
"untuk apa??" tanya.
"untuk  semuanya, tadi sikapku kasar, aku marah-marah padamu. Kamu juga dipukul Andy, aku merasa sangat bersalah.." jawabku.
"sudahlah tidak apa-apa, Aku tau kamu lagi punya masalah kan??" tanyanya.
Aku mengangguk, mataku mulai merah dan berkaca-kaca.
"ya sudah tenangkan dirimu dulu, kalau kamu mau tidur juga tidak apa-apa.." katanya.
"iya.." jawabku  sambil mengangguk.
"ohh, iya. Rumah kamu dimana?? " tanyanya lagi.
"Artane Road Blok 9.A nomor 25.." jawabku.
Mark mengangguk mengerti.

Lalu aku memejamkan mataku. Aku memikirkan semua yang terjadi padaku, semuanya karena Andy. Dia telah membuatku seperti ini, sungguh sakit rasanya saat ku ingat kata-katanya tadi.  Dan tak sengaja air mataku mengalir membasahi pipiku.
Mark memanggilku.
"angie, kamu kenapa??" tanyanya. Sambil menyentuh bahuku.

Kubukakan mataku.
"tidak apa-apa..." kataku. Sambil menyeka air mataku.
Mark menatapku dalam. Lalu kembali aku memejamkan mataku. Aku benar - benar tertidur kali ini, dan terbangun saat Mark yang membangunkan ku.
"Angie, sepertinya kita sudah sampai.." katanya sambil menepuk-nepuk bahuku.
Aku terbangun, dan melihat keluar mobil. Kaca mobilnya sudah dibukakan Mark. Butuh sedikit waktu untuk aku benar-benar mengamatinya.
"iya, Mark,. Ini rumahku.."kataku.

*******